February 18, 2013

Kearifan lokal dalam perilaku







Kearifan lokal
Berawal dari Gethuk sampai Pizza Hut

Selangkah demi selangkah ku berjalan mengelilingi kota Solo, Klaten, Jogja, Tegal, Jakarta, kemudian balik lagi ke Solo. Seperti ada yang berubah, apakah pribadiku atau kotaku? Lalu aku membeli gethuk yang laris dipasar larisnya sama seperti antrian pizza hut di jakarta, tapi mengapa rasa makananyanya sangat beda padahal sama larisnya.

Pengertian Kearifan Lokal.
Kearifan lokal adalah menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kehidupan manusia yang menunjukan jati diri seseorang dimana ia lahir, tinggal, dan kembali ke sang khalik, dimana kehidupan tersebut sudah dijalani oleh nenek moyangnya dan dilindungi oleh adat dan budaya masing-masing. (Rosa Zulfikhar, S.Sn.)

Hakikat Kearifan Lokal
Disaat saya bekerja sebagai praktisi di bidang desain terkadang saya lupa apa hakikat dari mendesain itu, desain merupakan pemenuhan kebutuhan dalam memberikan kepuasan dan kenyamanan bagi konsumen, mendesain tidak hanya menjual barang namun juga jasa. Nilai luhur yang lahir dalam diri kita bisa jadi merupakan komunikasi non verbal bagi khalayak umum,  tempat dimana kita berucap dan berperilaku. Pribadi kita berasal dari leluhur, namun mengapa perilaku kita selalu bertentangan dari kearifan lokal seperti berperilaku kebarat-baratan? padahal kita lahir di tanah Indonesia. Itulah kata kunci kearifan lokal yaitu Nilai luhur nenek moyang. Nilai luhur dalam desain contohnya seperti masuk  ke dalam ranah kepercayaan seperti agama, Feng Shui, Rumah adat, Ukiran jepara, dan kebiasaan yang dipercaya dapat menuntun hidup.

Perilaku Kearifan Lokal
Kita lahir dari budaya yang tua, unik, dan penuh perjuangan. Disaat saya meneliti tentang pembangunan di Klaten masyarakat menganggap pembangunan adalah gotong royong, mencari pakan ternak bersama sama ke sawah. Disaat saya belajar SD guru saya mengajarkan pembangunan dengan cara belajar yang rajin. Disaat saya bersepeda ke Waduk gajah mungkur menemui (alm)Nenek, beliau pernah berkata bahwa pembangunan itu apus-apus (bohong) amargo omahku diusir dinggo pelebaran waduk (karena rumahku diusir untuk pelebaran waduk).  Sebenarnya pembangunan itu menguntungkan atau merugikan? Mengapa pemerintah mengatakan pembaharuan dan pembangunan itu demi kelangsungan hidup manusia? Itu adalah perilaku posesif internal dan egosentrisme masal untuk kepentingan masal. Tidak ada yang salah dalam pembangunan, namun dapat menghilangkan jati diri kita sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan alam. Tidak ada penengah dalam membuat keputusan dalam pembangunan namun orang yang berpola fikir kearifan lokal memiliki jiwa positif dengan hati Narimo ing Pandum sehingga membatasi kita untuk berperilaku merusak.


Pola Fikir Kearifan Lokal
Seperti yang kita ketahui dalam teori bahwa lahirnya manusia mengikuti  jaman/era. Pola fikir mendasari cara pemikiran dalam jaman ia hidup seperti Renaissance berasal dari kata Re (kembali) dan Naitre (lahir) jadi, arti renaissance sebenarnya adalah lahirnya kembali orang Eropa untuk mempelajari ilmu pengetahuan, mereka berfikir saya bisa hidup dari ilmu pengetahuan. Jaman Nenek saya hidup dalam era tradisional jawa, nenek berfikir saya bisa hidup karena adanya alam di jawa (padi, ternak,dll) dan seni tari yang dipelajari turun temurun. Keponakan saya anak SD sekarang hidup dengan pola pikir post-modern dan hidup di jaman teknologi, dia berpikir kalau komunikasi dan TI itu penting, di saat saya lapar saya harus angkat telpon untuk pesan pizza hut atau pesan Mc Donald. Saat ini 18 Februari 2003 (kata orang ini adalah jaman modern) namun siapa sangka kalau cucu kita kelak mengatakan kita adalah orang kuno, seperti kita yang berfikiran kalau nenek moyangku pejuang kuno. Tapi, pejuang kuno ini dapat mengalahkan penjajah dengan sebilah bambu runcing.

Kearifan Lokal itu berfikiran Modern
Kearifan lokal bukanlah berfikiran tradisional dengan menjadikan suatu sumber daya sebagai sumber kehidupan, namun kita adalah sumber daya yang bisa dipelajari orang lain melalui budaya, adat istiadat, perilaku, Wiroso, Wirogo, Wiromo. Kearifan lokal adalah perjalanan hidup yang dapat membimbing kita menuju post modernisme. Kearifan lokal menjaga ekosistem dan budaya yang telah menghidupi kita dari lahir. Di era teknologi modern seperti ini banyak orang berkata kalau membangun gedung di kota besar seperti jakarta membuat ekosistem cepat mati dalam sekejap, saluran tanah mampet, pohon pohon ditebang untuk pembuatan pondasi dan perataan jalan. Lalu apakah pengertian era teknologi modern adalah era merusak ekosistem sebesar besarnya sehingga alam ini adalah milik penguasa yang berpengaruh? Jawabanya adalah bahwa Modern itu mahal sekali harganya. Semakin kita memiliki ideologi modern, semakin kita berfikir kelangsungan hidup manusia 1000 tahun lagi dan mengembalikan alam asri yang telah membuat kita hidup.

Kearifan Lokal secara Intrapersonal merupakan kritik atas kehidupan modern.
Siapa yang tidak ingin hidup di era modern ini? namun saya harus mengikuti era pola fikir modern dimana saya mengikuti hukum rimba untuk hidup. Mengkonsumsi hasil alam adalah ujung dari mata pencaharian, termasuk era modern ini. Saya lahir di Era manusia masal yang telah terlanjur tumbuh seperti bilangan kuadrat. Coba anda ingat-ingat bilangan berapa saja bilangan yang merupakan bilangan kuadrat. 1, 4, 9, 16, 25, 36, 49, 64, 81, 100, 121, 144, 169. Mingkin 234 juta penduduk Indonesia berasal dari bilangan 1. Dan angka 1 itulah yang harus saya hormati disaat saya lahir di urutan sekarang (mungkin 235 juta). Bentuk adat istiadat, bahasa, arsitektur, musik, tari, dekorasi, distrik fashion, makanan tradisional , alam, tumbuhan, hewan, dan kebudayaan yang telah membuat kita lahir terkadang kita lupa bahkan dirusak . Maka hidup harus seimbang dengan cara memenuhi kebutuhan secukupnya, menjaga lingkungan, dan memperbaiki alam. Kearifan lokal dapat membuat manusia menjadi rukun sehingga kehidupan dibumi akan damai. Hal ini dapat dimulai dari diri sendiri dan bisa dilakukan oleh seorang trendsetter seperti pemimpin, desainer, pembuat produk, dll.

TKMDII XI (11) di Universitas Sebelas Maret Surakarta